• Home
  • Foto Hot
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Contact

software unik

  • Home
  • Gambar Hot
  • Zona Dewasa
Home » Cerpen » Fairy Tale

Fairy Tale

oleh : software unik
Sebagai Postingan Pertama, Ku persembahkan sebuah Cerpen berjudul Fairy Tale yang diangkat lewat sebuah Kisah Nyata yang ditulis oleh Sahabat Baikku,



Hujan turun lagi hari ini. Seakan satu lagi alasan bagiku untuk tetap diam, terjebak seharian di rumah, sendirian. Bosan! Terpaksa, dengan berat hati, aku kembali ke kamarku, berusaha untuk menghabiskan waktu dengan cara yang paling mudah. Tidur.

Hari ini, hampir seluruh penghuni rumah memiliki kesibukan masing-masing, kecuali aku. Papa dan Mama keluar kota. Kerja. Sedangkan adik laki-lakiku pastinya masih berada di sekolah. Nah sedangkan aku, aku terpaksa diam sendirian di rumah. Oh ya, beberapa hari yang lalu, aku secara resmi telah menjadi alumni di SMP tempat aku bersekolah. Ya, benar, aku baru saja lulus dari SMP tempat aku bersekolah, dan sekarang sedang berada dalam masa transisi antara masa-masa SMP dan pra-SMA, memiliki segudang persiapan untuk meneruskan sekolahku ke tingkat SMA, dan pastinya, satu-satunya bagian yang paling kusenangi dalam hal ini, adalah fakta bahwa aku memiliki jangka waktu liburan yang cukup panjang untuk kuhabiskan sesuai dengan keinginanku.
Fiuh… Berdiam diri sendirian di rumah itu memang membosankan. Akhirnya, sambil merebahkan diriku di tempat tidur, kuputuskan untuk mengenang kembali saat-saat yang telah terlewati. Saat aku masih berstatus sebagai anak SMP, saat-saat aku mulai mengenal teman-teman sekelasku, saat-saat kami bersama-sama berjuang dalam ujian nasional, dan tawa serta tangis kegembiraan yang sama-sama kami rasakan saat lulus ujian. Ya, kami sekelas memang termasuk dalam golongan siswa-siswa beruntung yang dapat merasakan indahnya saat lulus ujian nasional bersama-sama. Untunglah, semua itu sudah usai.
Tiba-tiba, entah dari mana, aku teringat tentang dia. Dia, yang paling membekas di hati dan ingatanku. Dia yang selalu kurindukan. Aku teringat saat aku pertama kali berjumpa dengannya, saat aku mulai bersahabat dengannya, saat kami bercerita tentang semua impiannya, saat aku tanpa sadar telah jatuh cinta kepadanya, dan akhirnya saat aku terpaksa harus berpisah dengan dia. Sungguh, waktu merupakan batas yang aneh. Semua kenangan yang terjadi bertahun-tahun yang lalu seakan-akan baru saja terjadi kemarin hari. Dan memang benar kata orang, kenangan merupakan suatu harta terpendam yang eksklusif. Sangat berharga, dan di saat yang sama, tidak pernah ada yang bisa menggantikannya.
Kembali pikiranku melayang. Terbayang wajah riangnya yang selalu dihiasi senyuman. Wajahnya yang cerah, matanya yang bening, bibirnya yang tipis. Hmph. Mengapa aku jadi tiba-tiba bernostalgia seperti ini ya? Ah, sudahlah. Lebih baik kuceritakan tentang kisahku dengannya.
Namanya Kristin. Kupanggil dia Kit. Sebenarnya alasan aku memanggil dia dengan sebutan Kit adalah sebatas iseng saja. Toh akhirnya dia oke-oke saja dengan nama panggilanku itu. Lagipula, menurutku nama panggilan itu cukup unik, dan mungkin saja dia satu-satunya orang di dunia yang memiliki nama panggilan seperti itu.
Pertama kali aku berjumpa dengannya adalah pada saat aku mulai belajar bersekolah. Ehem… Maksudku saat aku pertama kali mengikuti Taman Kanak-Kanak. Dia adalah salah satu siswa yang paling menarik perhatianku pada saat itu. Dia adalah anak yang pendiam, jadi sangat cocok jika kujadikan dia sasaran keisenganku. Bahkan tidak jarang kubuat dia menangis karena kejahilanku. Hehehe… Maklum, masih anak-anak. Tapi anehnya, dia tidak pernah bersikap bermusuhan denganku. Sikapnya yang super ramah itulah yang membuatku tertarik kepadanya. Eitss… Jangan salah sangka dulu, maksudku tertarik untuk menjadi sahabatnya. Lagipula, masa sih masih TK sudah main naksir-naksiran? Yah, mungkin saja zaman sekarang ini sudah banyak yang begitu, mulai main cinta-cintaan sejak kecil, seperti adikku itu, tuh. Masih kecil, tapi katanya pacarnya sudah lima orang. Wah, kok bisa ya? Kakaknya ini saja saat ini masih belum punya pacar, tapi kok… Ya sudahlah. Lagipula di zaman masa kecilku dulu kan berbeda. Selain itu, saat itu kami kan masih terlalu polos untuk mengerti soal cinta.
Seiring dengan berlalunya waktu, tanpa disadari persahabatan pun mulai terjalin. Persahabatan yang benar-benar tulus, mengalir bagai air. Dan tanpa kusadari pula, aku telah menjadi salah satu sahabatnya yang paling dekat. Dia telah menjadi bagian dari hidupku, dan akupun menjadi bagian di hidupnya. Yah, setidaknya begitulah menurut pendapatku.
Setelah perjumpaan kami itu, kami terus melanjutkan merajut persahabatan kami, bahkan sampai saat kami lulus dari SD. Ya, kami terus melanjutkan persahabatan kami hingga lulus SD, karena kebetulan kami masuk ke SD yang sama, dan lebih kebetulan lagi, kami sekelas. Jadi, kami bisa terus bertemu hampir setiap hari. Tentunya di sekolah, karena rumahnya terletak cukup jauh dari rumahku.
Hari demi hari kami lalui bersama, hingga akhirnya, tanpa kami sadari, perasaan itupun mulai tumbuh dengan alami. Entah siapa yang memulainya, tak ada yang tahu. Tak ada yang mengaku, dan mungkin, hanya Tuhan yang tahu tentang perasaan kami yang sebenarnya saat itu. Setidaknya, sampai kami lulus SD.
Oh ya, pernah suatu ketika di saat istirahat, aku berbincang dengannya. Atau mungkin lebih tepatnya, dia curhat kepadaku, menceritakan tentang semua impiannya. Tentang masa depannya, serta semua cita-cita dan harapan di masa depannya. Saking seriusnya kami berbicara, entah kenapa, pembicaraan kami mulai menyinggung soal jodoh. Pacar, maksudnya… Aku bertanya soal tipe pacar idamannya, meskipun aku tahu, sampai saat itu dia masih belum punya pacar. Jawabannya, dia suka dengan tipe cowok yang baik, mampu mengerti dirinya. Seperti aku ini, katanya. Hmph. Lucu juga jika mengingat di usia yang masih muda seperti itu kami sudah mulai belajar tentang pacaran. Meskipun begitu, kejadian itu terus membekas di hatiku sampai sekarang.
Dia juga sering bercerita kepadaku tentang cerita-cerita dongeng kesukaannya. Katanya, cerita-cerita itu sering diceritakan oleh ibunya dulu, sebelum ibu dan ayahnya bercerai. Ya, dia adalah salah satu dari anak-anak yang menjadi korban akibat perceraian orang tua. Tapi yang membuatku kagum padanya adalah sikapnya yang tabah akan cobaan hidup, walaupun usianya boleh dikatakan masih sangat muda. Bisa dikatakan sikapnya sudah sangat dewasa jika dibandingkan dengan fakta bahwa ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Oh ya, salah satu cerita dongeng kesukaannya adalah cerita tentang Cinderella. Kupikir mungkin ini ada kaitannya dengan kehidupannya, soalnya saat itu dia tinggal bersama dengan neneknya. Mungkin saja neneknya itu serupa dengan ibu tiri, yang dikisahkan sering menyiksa si Cinderella. Menyuruh si Cinderella mengerjakan setiap pekerjaan rumah, tanpa pernah sedikitpun diberi waktu untuk beristirahat. Lagipula sifatnya memang mirip dengan Cinderella di cerita tersebut. Tabah dan baik hati. Tapi ketika aku menanyakan kemungkinan itu kepadanya, katanya tidak kok. Dia hanya senang dengan akhir cerita kisah itu yang bahagia. Tapi kupikir, mungkin saja dia sengaja mengelak, karena kulihat tampang neneknya itu cukup menyeramkan. Tapi, siapa tahu saja apa yang dikatakannya memang benar. Lagipula, tidak baik menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja, kan?
Bicara soal Cinderella, aku teringat saat itu aku melontarkan sebuah pertanyaan yang aneh kepadanya.
“Hey, Kit, kamu suka Cinderella, ya?”
“Iya. Memangnya kenapa?”, tanya dia.
“Kalau misalnya aku jadi Cinderella, bagaimana?”
“Um, ya pasti senanglah.”
“Kalau aku yang jadi pangerannya, bagaimana?”
“Hah?!”, dia kelihatannya kaget. Wajahnya memerah, tapi dia diam saja.
“Hehehe, bercanda kok.”, lanjutku, dengan nada bergurau.
Aku sama sekali tak mengerti mengapa dia bertingkah aneh waktu itu. Tapi tak kuhiraukan, sehingga kami berdua tak lagi mengungkit soal kejadian itu.
Waktu demi waktu berlalu sejak kejadian itu, hingga tanpa terasa kami telah lulus SD. Akhirnya tiba juga saatnya aku pergi meninggalkan kota itu. Beberapa hari sebelumnya orangtuaku menerima surat pindah tugas dari bos mereka ke tempat yang sama. Benar-benar kebetulan yang aneh.
Aku ingat, siang itu aku sedang berkemas, bersiap untuk pergi. Jadi kuputuskan untuk menemuinya dan mengucapkan selamat tinggal. Lagipula, saat itu kupikir mungkin saja kali itu terakhir kalinya aku bisa bertemu dengannya. Yah, setiap perjumpaan harus memiliki perpisahan. Jadi, kuputuskan untuk bertandang ke rumahnya. Meskipun letaknya cukup jauh, tapi tak apalah. Lagipula, mungkin kami tak akan bertemu untuk waktu yang cukup lama setelah hari ini. Langsung saja aku pamit kepada orang tuaku untuk pergi ke rumahnya, dan bergegas menuju ke rumahnya dengan segera.
Setibanya disana, kulihat dia sedang duduk sendirian di ruang depan. Pandangannya kosong, tetapi jauh ke depan, seakan sedang terhanyut dalam angan yang tak berbatas. Kelihatannya dia sedih.
“Kit”, panggilku.
Segera dia menoleh ke arahku. Tetapi, segera setelah dia melihatku, dia langsung saja memalingkan wajahnya. Kelihatannya dia enggan melihatku. Penasaran, akupun mendekatinya. Kembali aku bertanya kepadanya.
“Kit, ada apa?”, tanyaku penasaran.
Dia menoleh lagi ke arahku. Saat itu akhirnya aku bisa melihat kedua bola matanya itu dengan jelas. Matanya tampak merah, kelihatannya sedang mencoba menaahan air mata yang bisa tumpah kapan saja. Matanya memancarkan kesedihan. Baru kali itu aku melihat dia sesedih itu. Dia seakan sedang menahan rasa sakit hati yang sangat dalam.
“Kit, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?”, tanyaku lagi.
Dia tetap diam. Penasaran, aku bertanya sekali lagi.
“Kenapa?”
“Kamu akan pergi?”, tanya dia.
“Ya, sebentar lagi. Maaf, aku harus ikut dengan kedua orang tuaku.”, jawabku.
“Kamu benar-benar harus pergi, ya?”, dia kelihatan sedih.
“Ya. Maafkan aku.”, saat itu hampir tidak ada kata lain yang bisa kuucapkan, kecuali kata maaf. Heh, aku benar-benar payah...
“Kamu akan meninggalkan aku?”, tanya dia meminta kepastian lagi, seolah-olah tak rela aku pergi.




“......”, saat itu aku terdiam, tak tahu lagi harus berkata apa. Suasana menjadi hening. Seolah telah mengetahui jawabanku, dia memalingkan wajahnya.
“Aku tahu, aku tahu itu.”, katanya.
Sebelum aku sempat berkata lagi, dia langsung balik bertanya kepadaku.
“Apa kamu masih ingat dengan pertanyaanmu yang dulu?”, tanya dia.
“Huh? Pertanyaan yang mana?”, tanyaku penasaran.
“Tentang Cinderella”, jawabnya.
Aku terdiam. Waktu itu aku sama sekali tidak menyangka pertanyaanku yang sempat kulontarkan dulu masih diingatnya. Tapi, saat itu dia kelihatannya serius.
“Um, ya... Memangnya kenapa?”, jawabku sambil balik bertanya.
“Apa kamu mau mengetahui jawabannya?”, tanya dia lagi.
“Ah, sudahlah, waktu itu kan aku hanya bercanda. Lagipula aku sudah tahu jawabannya, kok...”, jawabku dengan cepat, menutupi rasa gugupku saat itu.
“Benarkah? Apa itu?”, tanya dia tak percaya.
“Kamu pasti tidak mau, kan? Lagipula, mana mungkin sih aku menjadi pangeran dari seorang Cinderella yang begitu cantik seperti kamu? Jika dibandingkan, mungkin aku hanya setara dengan budak miskin yang tidak layak disandingkan dengan seorang putri seperti kamu. Ya, kan?”, sambungku dengan cepat. Aku benar-benar bodoh sekali saat itu. Uh!!
“Hehe.. Benar juga sih,” jawabnya dengan kepala tertunduk.
Akupun tertunduk. Saat itu aku benar-benar kecewa berat. Kesempatan terakhirku untuk mengungkapkan cinta kepadanya telah kusia-siakan. Bahkan sampai kini aku masih menyesali peristiwa itu. Mengapa aku benar-benar bodoh sampai tak menyadari bahwa dia juga menyukaiku. Padahal, kami telah bersahabat dan saling mengenal cukup lama.
“Hey, bukankah kamu harus segera pergi?”, tanya dia membuyarkan lamunanku.
“Oh ya! Aku lupa! Maafkan aku ya, Kit, tapi sepertinya aku harus segera pergi.” kataku.
“Baiklah,” katanya. “Berjanjilah untuk kembali. Aku akan selalu menunggumu kembali.” katanya.
“Tentu saja.”, jawabku.
“Janji?”, tanya Kit sambil menyodorkan jari kelingking tangan kanannya kepadaku.
Segera kukaitkan jari kelingking tangan kananku dengan jarinya.
“Janji.”, jawabku yakin. Dengan kata-kata perpisahan itu pula dia memberikan sebuah ciuman perpisahan di pipiku. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan aku. Aku terdiam seribu bahasa, seolah terlepas dari ikatan dunia dan terbang ke langit ketujuh saat itu. Kini, jika kuingat kembali, baru kusadari betapa bodohnya aku ini. Dalam hatiku aku tahu bahwa sesungguhnya dia mencintaiku, tapi aku tak memiliki sedikitpun keberanian untuk menyatakan bahwa akupun mencintainya. Heh... Cinta memang merepotkan...
Aku tak pernah lagi mendengar berita tentang dia sejak saat itu, sejak aku pergi meninggalkan dia. Mengingat kisahku dengan Kit, aku jadi teringat sebuah penggalan syair lirik lagu dari lagu Dear God yang dinyanyikan Avenged Sevenfold.
‘I left her when I found her, and now I wished I’d stayed,
Cause I’m lonely, and I’m tired, and I’m missing you again...’
Yah, benar-benar cocok dengan keadaanku yang sekarang. Tapi apa daya, yang berlalu sudah berlalu, tak ada gunanya menyesali apa yang tak dapat diperbaiki lagi, karena meskipun masa lalu sering membuat luka di hati, tapi luka tersebutlah yang membuat kita lebih tabah dalam menjalani hidup ini. Lagipula, apa gunanya seseorang men jalani hidup, jika hidupnya itu tidak seimbang, hanya memiliki kenangan yang indah-indah saja, atau sebaliknya? Pastinya hidupnya akan terasa hambar. Bukan begitu? Setidaknya, itu menurut pendapatku.
Heh... Kuambil gitarku dan mulai bernyanyi,
“Pujaan hati, apa kabarmu...”
Keesokan harinya...
Hari yang cerah. Sang mentari bersinar di ufuk timur, hanya segumpal awan di atas sana. Sempurna. Saatnya aku pergi. Oh ya, hari ini aku berencana untuk mengunjungi Kit, setelah sekian lama aku tidak berjumpa dengannya.
Bagaimana kabarnya, ya?
Waktu berlalu.. Tanpa terasa Aku telah tiba di tempat tujuanku.
Aku berjalan melewati jalan setapak ini. Kulihat dia. Disana, dibawah pohon itu, tempat kami dulu biasa menghabiskan waktu dengan bermain.
“Hey, Kit, apa kabar? Aku kembali, sesuai janjiku. Dan kau masih disini.”
“...”, suara gemerisik daun di ujung sana memecah kesunyian.
“Apakah kau masih ingat dengan pertanyaanku dulu? Dengar, aku ingin mengaku. Sebenarnya waktu itu aku berbohong. Aku ingin sekali menjadi pangeranmu, tapi aku tak ingin perpisahan kita menjadi lebih menyakitkan bagimu.”
“...”, suara desir angin yang lembut terdengar.
“Maafkan aku yang terlambat kembali. Aku tak pernah menyangka ini akan terjadi. Tapi, satu yang harus kau tahu...”
Waktu seakan terhenti sejenak. Bahkan suara gemerisik daun dan desir angin terdiam. Daun berhenti bergoyang, bersama ilalang liar yang mulai tumbuh di sekitar pusara Kit.
“Kit, aku sayang kamu.”
Aku lega. Akhirnya setelah sekian lama, kata itu keluar juga dari mulutku, meskipun terlambat. Tapi aku tahu, di atas sana, dia pasti mendengarkan kata-kataku barusan.
Kuletakkan bunga di pusara itu. Sebuah pusara putih. Sekarang Kit telah menemukan tempat peristirahatannya.
“Kit, beristirahatlah dengan tenang.”
Forgot how long it’s been, since I last heard you,
Telling me, about your favorite story...
Thought for a long time, began to worry,
Is it me, who did something wrong?
You cried and said to me, that fairytales are all just lies,
I couldn’t be your fairy tale prince...
But you dont understand, since you gave me your hands
Stars in my sky began to shine....
I’m willing to change into the angel in those fairy tales,
Just turn my arms into wing’s and hold you near...
You must believe, believe that we will be a fairy tale,
Ending with happiness and love...
“And I know, you’ll be in my heart, and I’ll always remember you, cause I always loved you.



oleh Sahabatku : Andrew Sondakh



Posted by Unknown - Rating: 4.5
Title : Fairy Tale
Description oleh : software unik, Sebagai Postingan Pertama , Ku persembahkan sebuah Cerpen berjudul Fairy Tale yang diangkat lewat sebuah ...

Share to

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Fairy Tale"

Posting Komentar

Posting Lebih Baru
Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Hot Lainnya

Copyright © 2012 software unik - All Rights Reserved
Design by Tahan Lama - Powered by Blogger